Bencana, Sabar, Sombong, dan Cinta
Ciri-ciri orang beriman adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan Allah dan bersabar ketika mendapatkan bencana. Kenikmatan dan bencana ini dua-duanya merupakan ujian, test akan kebersukuran dan kesabaran. Ketika dapat nikmat ga bersyukur, malah akan digantikan azab. "Walainkafartum inna adzabi lasyadid" na'udzubillah.

Baru-baru ini kita diberikan ujian dalam bentuk bencana oleh Allah swt atas negeri tercinta ini. Belum genap 2 thn tsunami Aceh, kembali tsunami menyapu daerah pantai selatan Jawa Samudera Hindia. Aku sangat turut berduka cita atas bencana alam ini. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik, pasti ada. Sedikit diantaranya: kemaksiatan di bibir pantai Pangandaran kini bersih tersapu tsunami, semakin kelihatannya orang2 yg peduli dan tidak (gaji ke-13).
Yang aku takut dari kejadian bencana yang membuatku merasa ga mau baca berita bencana atau nonton cerita seorang atau keluarga yang terkena bencana adalah pernyataan mereka yang sombong, bukannya berintrosfeksi. Kalimat yang ga mau kudengar adalah "Ya Allah mengapa Kau timpakan bencana ini kepada kami?" Kalimat ini sangat bagus untuk tidak diucapkan, tapi dianalisis untuk kepentingan pribadi. Andaikan ini diucapkan, brarti dia sudah menganalisis dan menganggap bahwa ga ada yg salah dari diri gw, kok kenapa Allah menimpakannya kepadaku, bukan ke orang2 yg bener jahat di Isreal misalnya. Suatu pernyataan sombong yang wajar ditimpakan bencana lagi kepadanya.
Kalimat kedua "Ya Allah salah apa kami, sampai Engkau menimpakan bencana kepada kami?". Sebagaimana kalimat pertama, kalimat ini lebih tidak pantas lagi untuk diucapkan bahkan untuk membersit di dalam hati. Kalimat kesombongan "Apa salah kami?" atau kalimat kemalasan untuk menganalisa kesalahannya "Apa salah kami?" atau kalimat yang menyatakan bahwa kami itu tidak salah, Allah-lah yang salah pada kami, padahal kami sudah beribadah sebanyak orang2 yg tak terkena musibah, Allah yang tidak adil dan tidak menepati janj-Nya untuk menyayangi makhluk yang "mendekatinya". Nau'udzubillahi min dzalik. Sangat pantas bagi Allah untuk memperberat ujian orang2 ini.
Allahumma shalli 'ala Muhammad.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari ucapan2 sedemikian, yang membuat kami benci kepada-Mu. Apapun yang Engkau berikan, itu adalah bingkisan rasa cinta-Mu pada makhluk-Mu. Memang bingkisan ini menyakitkan, tapi apakah kita tidak pernah menyakiti Allah. Menyakiti dengan bersitan hati yang mengkhianati percintaan Engkau dengan kami, menyakiti dengan anggota tubuh kami yang Engkau pinjamkan. Sungguh kami tidak akan bahagia tanpa kehadiran cinta-Mu. Ya Allah sempurnakanlah cinta-Mu padaku dan sempurnakanlah cintaku pada-Mu. Kematian adalah tahap untuk selanjutnya bertemu dengan Engkau. Apa pun pemberian Engkau, bahkan menyebabkan kami mati. Kami menerimanya dengan ikhlas dan ridla. Alhamdulillahirabil'alamin.

Baru-baru ini kita diberikan ujian dalam bentuk bencana oleh Allah swt atas negeri tercinta ini. Belum genap 2 thn tsunami Aceh, kembali tsunami menyapu daerah pantai selatan Jawa Samudera Hindia. Aku sangat turut berduka cita atas bencana alam ini. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik, pasti ada. Sedikit diantaranya: kemaksiatan di bibir pantai Pangandaran kini bersih tersapu tsunami, semakin kelihatannya orang2 yg peduli dan tidak (gaji ke-13).
Yang aku takut dari kejadian bencana yang membuatku merasa ga mau baca berita bencana atau nonton cerita seorang atau keluarga yang terkena bencana adalah pernyataan mereka yang sombong, bukannya berintrosfeksi. Kalimat yang ga mau kudengar adalah "Ya Allah mengapa Kau timpakan bencana ini kepada kami?" Kalimat ini sangat bagus untuk tidak diucapkan, tapi dianalisis untuk kepentingan pribadi. Andaikan ini diucapkan, brarti dia sudah menganalisis dan menganggap bahwa ga ada yg salah dari diri gw, kok kenapa Allah menimpakannya kepadaku, bukan ke orang2 yg bener jahat di Isreal misalnya. Suatu pernyataan sombong yang wajar ditimpakan bencana lagi kepadanya.
Kalimat kedua "Ya Allah salah apa kami, sampai Engkau menimpakan bencana kepada kami?". Sebagaimana kalimat pertama, kalimat ini lebih tidak pantas lagi untuk diucapkan bahkan untuk membersit di dalam hati. Kalimat kesombongan "Apa salah kami?" atau kalimat kemalasan untuk menganalisa kesalahannya "Apa salah kami?" atau kalimat yang menyatakan bahwa kami itu tidak salah, Allah-lah yang salah pada kami, padahal kami sudah beribadah sebanyak orang2 yg tak terkena musibah, Allah yang tidak adil dan tidak menepati janj-Nya untuk menyayangi makhluk yang "mendekatinya". Nau'udzubillahi min dzalik. Sangat pantas bagi Allah untuk memperberat ujian orang2 ini.
Allahumma shalli 'ala Muhammad.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari ucapan2 sedemikian, yang membuat kami benci kepada-Mu. Apapun yang Engkau berikan, itu adalah bingkisan rasa cinta-Mu pada makhluk-Mu. Memang bingkisan ini menyakitkan, tapi apakah kita tidak pernah menyakiti Allah. Menyakiti dengan bersitan hati yang mengkhianati percintaan Engkau dengan kami, menyakiti dengan anggota tubuh kami yang Engkau pinjamkan. Sungguh kami tidak akan bahagia tanpa kehadiran cinta-Mu. Ya Allah sempurnakanlah cinta-Mu padaku dan sempurnakanlah cintaku pada-Mu. Kematian adalah tahap untuk selanjutnya bertemu dengan Engkau. Apa pun pemberian Engkau, bahkan menyebabkan kami mati. Kami menerimanya dengan ikhlas dan ridla. Alhamdulillahirabil'alamin.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home