Try to Think Subjectively!
Seringkali kita menilai sesuatu objek. Objek bisa dalam bentuk real: benda lengkap dg warna, volume, dan massanya, atau dalam bentuk unreal: permasalahan. Sebagian besar dari kita mungkin telah dicekoki bahwa berfikirlah secara objektif, maka akan menghasilkan penilaian yang benar.

Objective vs Subjective
Sebelumnya, mari kita lihat definisi yg benar mengenai perbedaan penilaian antara objective dan subjective. Dalam ranah ilmu sosiologi, penilaian objective adalah penilaian yg dikeluarkan oleh pihak kedua atau ketiga, korban (object), pengamat, yg pasti bukan pelaku (subject), . Sedangkan penilaian subjective adalah penilaian yg dikeluarkan oleh pihak pelaku (subject).
Teladan
Seorang pelancong sedang berwisata ke pantai, pada siang hari dia berjalan-jalan di pemukiman nelayan. Pemukiman yg kumuh, sementara para nelayan hanya duduk-duduk, tiduran, bahkan tidur pulas, kumpul2 di warung kopi, melakukan aktivitas yg tidak komersil, spt maen bola, bulu tangkis, tidak ada yg bekerja. Lalu si pelancong memberikan penilaian bahwa kenapa ekonomi nelayan di daerah ini begitu terpuruk, dikarenakan penduduknya yg bermalas-malasan, sehingga terasa menderita dg ekonomi pas-pasan.
Sementara nelayan sendiri tidak merasa demikian, mereka merasakan kebahagiaan hidup yg ga didapat oleh penduduk urban, bisa lebih lama bercengkrama dg keluarga, ngobrol di warung kopi dg teman2 mereka, melakukan aktivitas yg disukainya, makan dg makanan favorit mereka, asin dan lalab, dan mereka pun ternyata menganggap bekerja keras ketika pada malam hari ketika mereka harus melaut untuk mencari nafkah yg Allah sediakan buat mereka.
Manakah yg penilaian yg objective dan manakan yg subjective?
Ya penilaian si pelancong akan kehidupan nelayan adalah penilaian objective
Hikmah
Dari sepenggal teladan di atas, ternyata tidak selalu penilaian objective itu better than penilaian subjective. Mencoba berfikir subjective malah bisa mengetahui apa keadaan sebenarnya yg terjadi. Ya... kuncinya kumpulkan data sebanyak2nya kemudian cobalah berfikiran subjective, seolah2 kita adalah pelakunya... maka kita akan mendapatkan kesimpulan yg mencengangkan. Sebagaiamana yg ada di fikiran detektif, dengan data yg ada, dia mencoba berfikir subjective, seolah2 dia adalah penjahatnya. Sehingga alur pikirannya (penjahat) dpt tertebak.
Nah... sekarang menurut Anda, mana yg lebih baik, penilian subjective atau penilaian objective?

Objective vs Subjective
Sebelumnya, mari kita lihat definisi yg benar mengenai perbedaan penilaian antara objective dan subjective. Dalam ranah ilmu sosiologi, penilaian objective adalah penilaian yg dikeluarkan oleh pihak kedua atau ketiga, korban (object), pengamat, yg pasti bukan pelaku (subject), . Sedangkan penilaian subjective adalah penilaian yg dikeluarkan oleh pihak pelaku (subject).
Teladan
Seorang pelancong sedang berwisata ke pantai, pada siang hari dia berjalan-jalan di pemukiman nelayan. Pemukiman yg kumuh, sementara para nelayan hanya duduk-duduk, tiduran, bahkan tidur pulas, kumpul2 di warung kopi, melakukan aktivitas yg tidak komersil, spt maen bola, bulu tangkis, tidak ada yg bekerja. Lalu si pelancong memberikan penilaian bahwa kenapa ekonomi nelayan di daerah ini begitu terpuruk, dikarenakan penduduknya yg bermalas-malasan, sehingga terasa menderita dg ekonomi pas-pasan.
Sementara nelayan sendiri tidak merasa demikian, mereka merasakan kebahagiaan hidup yg ga didapat oleh penduduk urban, bisa lebih lama bercengkrama dg keluarga, ngobrol di warung kopi dg teman2 mereka, melakukan aktivitas yg disukainya, makan dg makanan favorit mereka, asin dan lalab, dan mereka pun ternyata menganggap bekerja keras ketika pada malam hari ketika mereka harus melaut untuk mencari nafkah yg Allah sediakan buat mereka.
Manakah yg penilaian yg objective dan manakan yg subjective?
Ya penilaian si pelancong akan kehidupan nelayan adalah penilaian objective
Hikmah
Dari sepenggal teladan di atas, ternyata tidak selalu penilaian objective itu better than penilaian subjective. Mencoba berfikir subjective malah bisa mengetahui apa keadaan sebenarnya yg terjadi. Ya... kuncinya kumpulkan data sebanyak2nya kemudian cobalah berfikiran subjective, seolah2 kita adalah pelakunya... maka kita akan mendapatkan kesimpulan yg mencengangkan. Sebagaiamana yg ada di fikiran detektif, dengan data yg ada, dia mencoba berfikir subjective, seolah2 dia adalah penjahatnya. Sehingga alur pikirannya (penjahat) dpt tertebak.
Nah... sekarang menurut Anda, mana yg lebih baik, penilian subjective atau penilaian objective?
1 Comments:
At Tuesday, March 01, 2016,
Starbio Plus untuk Cara Atasi Wastapel Mampet said…
menarik artikelnya bagus
senang berkunjng ke blog anda
menambah insfirasi,terimakasih
Post a Comment
<< Home