Menyoal Hasil Ujian Nasional
Sebagai anak guru (bapak dan ibu gw guru SD), gw merasakan apa yg terjadi dg dunia pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan dasar dan menengah. Baru2 ini gempar di media-media, internet, tv, radio, majalah, maupun surat kabar mengenai hasil Ujian Nasional (UN). Pasalnya beberapa siswa pintar, tidak lulus UN. Dan lucunya (lucu teu hayang seuri) lagi, pemerintah melalui corong wapres, tidak merestui UN ulang. Walhasil, siswa2 yg ga lulus jadi pada sumetres... malah sampe pengen maen bakar2an.
The Real Problem
Kalo mau liat masalah riil-nya, jangan menilai hasil UN, tapi liat secara keseluruhan sistem pendidikan kita, super ngaco.... Apa pasal? Ada 3 pasal:
1 Tidak mempertimbangkan minat dan kemampuan siswa
It's OK... Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (DikDasMen) menetapkan mata pelajaran dasar yg semua siswa harus kuasai secara standard. Penentuan mata pelajaran ini harus dipertimbangkan secara matang. Selain mata pelajaran tsb, para siswa boleh memilih mata pelajaran sesuai dg minat dan kemampuan dia, mirip2 kuliah geto....
2 Level pelajaran terlalu tinggi
Oleh karena tujuan standar tadi, ya... ukuran standarnya jangan tinggi-tinggi. Cuz yang ditekankan pada sistem pendidikan itu adalah palajaran yg sesuai minat dan kemampuannya. Sehingga banyak waktu yg bisa siswa lakukan dan dalami pada pelajaran2 yg mau ditekuninya. Bukannya kaya sekarang. Semua mata pelajaran harus dikuasi sementara levelnya terlalu tinggi. Ya... puyeng atuh. Siswa juga manusia..! Padahal yg dibutuhkan di kehidupan sehari2 ga sampe segitunya. Kalo dia jago di beberapa pelajaran yg dia sukai, pasti bgt dia bakal jadi ahli di bidangnya... Dokter spesialis lebih mahal daripada dokter umum, isn't it?. Buktinya udah banyak. Contoh aja, ada murid ibu gw yg pindah ke Ustrali. Di sana dia harus mengikuti test masuk elementy school, tapi yg ditest matematika aja. Ibu gw takut, takut dia ga lulus, cuz di kelas, nilai matematikanya di bwah rata2. Eh ternyata.... walah dia nomor 1 di kelasnya di bidang matematika.
3 Mata pelajaran terlalu banyak
Ini dia yg bikin puyeng lagi. Bukannya mencetak SDM yg mumpuni di bidangnya, malah mencetak SDM yg harus mumpuni di semua bidang. Walhasil... ga ada satupun yg dimumpuninya. Bayangkan aja, dalam seminggu ada 12 mata pelajaran. Wooooohhhh!!!!
Menurut gw, 3 pasal ini dulu deh dibenahi... baru ke kategori terakhir... penentuan apakah dia berhak lulus dari sekolah apa ngga? Dan yg perlu dicatat adalah bukan menstandarkan soal UN, tapi standarkan sekolahnya, guru2nya, mata pelajarannya. Dan untuk menentukan seseorang lulus apa ngga, bukan dilihat dari niali Ujian Nasional. Tapi dari banyak variable yg sangat komplek, misalnya dibuatlah model regresi logistik atau probit, atau dibikinlah persamaan garis diskrimnannya. What a simple?
The Real Problem
Kalo mau liat masalah riil-nya, jangan menilai hasil UN, tapi liat secara keseluruhan sistem pendidikan kita, super ngaco.... Apa pasal? Ada 3 pasal:
1 Tidak mempertimbangkan minat dan kemampuan siswa
It's OK... Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (DikDasMen) menetapkan mata pelajaran dasar yg semua siswa harus kuasai secara standard. Penentuan mata pelajaran ini harus dipertimbangkan secara matang. Selain mata pelajaran tsb, para siswa boleh memilih mata pelajaran sesuai dg minat dan kemampuan dia, mirip2 kuliah geto....
2 Level pelajaran terlalu tinggi
Oleh karena tujuan standar tadi, ya... ukuran standarnya jangan tinggi-tinggi. Cuz yang ditekankan pada sistem pendidikan itu adalah palajaran yg sesuai minat dan kemampuannya. Sehingga banyak waktu yg bisa siswa lakukan dan dalami pada pelajaran2 yg mau ditekuninya. Bukannya kaya sekarang. Semua mata pelajaran harus dikuasi sementara levelnya terlalu tinggi. Ya... puyeng atuh. Siswa juga manusia..! Padahal yg dibutuhkan di kehidupan sehari2 ga sampe segitunya. Kalo dia jago di beberapa pelajaran yg dia sukai, pasti bgt dia bakal jadi ahli di bidangnya... Dokter spesialis lebih mahal daripada dokter umum, isn't it?. Buktinya udah banyak. Contoh aja, ada murid ibu gw yg pindah ke Ustrali. Di sana dia harus mengikuti test masuk elementy school, tapi yg ditest matematika aja. Ibu gw takut, takut dia ga lulus, cuz di kelas, nilai matematikanya di bwah rata2. Eh ternyata.... walah dia nomor 1 di kelasnya di bidang matematika.
3 Mata pelajaran terlalu banyak
Ini dia yg bikin puyeng lagi. Bukannya mencetak SDM yg mumpuni di bidangnya, malah mencetak SDM yg harus mumpuni di semua bidang. Walhasil... ga ada satupun yg dimumpuninya. Bayangkan aja, dalam seminggu ada 12 mata pelajaran. Wooooohhhh!!!!
Menurut gw, 3 pasal ini dulu deh dibenahi... baru ke kategori terakhir... penentuan apakah dia berhak lulus dari sekolah apa ngga? Dan yg perlu dicatat adalah bukan menstandarkan soal UN, tapi standarkan sekolahnya, guru2nya, mata pelajarannya. Dan untuk menentukan seseorang lulus apa ngga, bukan dilihat dari niali Ujian Nasional. Tapi dari banyak variable yg sangat komplek, misalnya dibuatlah model regresi logistik atau probit, atau dibikinlah persamaan garis diskrimnannya. What a simple?
0 Comments:
Post a Comment
<< Home