Sudah lama ingin mencurahkan isi hati mengenai yang satu ini, khilafiyah: perbedaan. Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat mengingat Ramadhan penuh dengan ibadah-ibadah sehingga banyak juga khilafiyahnya. Kemudian, beberapa orang (kalau tidak mau dibilang banyak) menganggap bahwa orang-orang yang bersebrangan pendapatnya adalah pelaku bid'ah, dan perbuatannya adalah bid'ah. Bid'ah karena menurutnya itu adalah hal-hal baru, dan setiap pekerjaan bid'ah adalah sesat, dan tempat bagi orang yg tersesat adalah di neraka. Memang khilafiyah erat kaitannya dengan masalah bid'ah-membid'ahkan.
Apa yang harus kita lakukan ketika mendapati perbedaan?
Tentu saja jangan panik, jangan panas, jangan stress, karena mereka itulah sumber penyakit: penyakit hati dan bodi. Kemudian tanyakan kepada ulama dalam hal ini ustadz yang mumpuni. Jangan didiskusikan di antara teman yang sama-sama "ora mudeng". Tanya ke ustadz, pasti ustadznya seneng.... kita juga insya Allah bakal seneng atuh! Masalahnya kriteria ustadz yg mumpuni itu seperti apa? Nah itu jawabannya susah. So far, Ustadz Ahmad Sarwat paling bagus untuk masalah fiqh, soalnya beliau adalah faqih. Atau kalo pengen sungguh-sungguh, tanya ke ulama/ustadz yg menjalankan perbedaan itu. Tanya kedua belah pihak yg berbeda (kalo tiga yg berbeda, ya tanya nya ke ketigabelah pihak, dst...). Insya Allah kita dapat pengetahuan yg "integral" (jadi inget si Doel pas Ospek).
Kenapa sih harus tanya ulama, pan sekarang buku-buku hadith banyak, Quran punya?
Ya para ulama pasti lebih tahu bidangnya. Tapi inget, kalo masalah fiqh tanya ke ulama yang faqih, jangan ke Qori' atau Qori'ah. Karena beliau tahu masalah fiqh sebagaimana kita memahami seluk beluk bidang kita sendiri; statistika misalnya, sudah dipastikan Pa Ustadz rada puyeng ditanyain masalah statistika. Juga, para ulama mempelajari ilmu-ilmu yang telah berkembang pada zaman abad keemasan Islam, atau kalo di Eropa: abad pertengahan ("middle age") atau abad kegelapan ("early middle age", kalo ga mau dibilang "dark age" mah). Karena di masa-masa itulah muncul ilmuwan-ilmuwan (baca: ulama) di berbagai bidang: ilmu pasti, sosial, ekonomi, geograpi, sejarah, kedokteran, astronomi, juga ilmu-ilmu keIslaman: hadith, tapsir, fiqh, muamalah, kritik hadith dll.
Contohnya: Bukhari, Muslim dan beberapa ulama hadith lainnya menentukan derajat suatu hadith: apakah shahih, hasan, dhoif, palsu. Kemudian apakah marfu' atau tidak, banyaklah pokonamah. Cara penelusurannya dengan mendatangi secara langsung perawi hadith tersebut, kemudian ..... ada metodenya pokonamah.... simplena mah jadi aja ini hadith derajatnya apa, apanya apa, dan apanya apa. Lalu dibikin buku, misalnya Kitab Shahih Bukhari dan Muslim dll. Kemudian muncul juga ilmu kritik hadith, menguji bener ga sih hadith ini apanya apa.
Terus ahli fiqih menggunakan hadith-hdith mereka dan menggunakan metode-metode fiqihnya untuk mengeluarkan fatwa atau ijtihad. Metode fiqh tsb dikenal dengan nama ushul fiqh (cmiiw). Nah, dari hadith yang sama kadangkala dan seringkali menganding multiinterpretasi. Nah inilah yang menimbulkan perbedaan atau khilafiyah. Para ulama fiqh udah biasa menghadapi perbedaan, mereka ngga panas, ngga stress, ga panik, dan yang penting ngga menuduh pihak yang bersebrangan (berbeda) dengannya adalah "sesaaaattttt", "bid'aaaaahhhhh". Karena apa? Karena kalau ada perbedaan dikembalikan pada al-Quran dan Sunnah, kalo ga ada di sana baru bisa disebut sesat atau bid'ah. Tapi kalo ada dan berbeda pendapat, disikapi dengan penghargaan, jadi weh rahmat tea.
Terakhir, perlu kita ketahui, bahwa khilafiyah yang terjadi saat ini, kebanyakan (banyak banget) sudah terjadi di masa-masa para ulama lalu, sekitar 1000 tahun yang lalu. Dan sebagian orang yang "still green" seolah-olah merasa benar dg pendapatnya dan mengatakan "si anu sesssaaaaattt, si fulan bbbiiiiidddd''''aaaahhhh. What a waste! Contohnya hitungan shalat tarawih, qunut, niat shalat. Pesan terakhir, jangan sampai mudah terhasud atau menghasud untuk membid'ahkan orang lain, karena bisa jadi ketahuan padahal kita yang awam (padahal mah iya awam beneran).