Masalah itu adalah Aku
Seorang lelaki muda berdiri dihadapanku. Usia, perawakan, dan bahkan segala persoalannya sama denganku. Aku tahu itu, karena kita sering bertemu, setiap hari. Kami selalu berbincang-bincang dan saling menasihati untuk memecahkan persoalan bersama. Persoalan yang kini kerap mengganggu kehidupannya adalah mencari pendamping hidup, persoalan yang banyak dialami oleh orang seusianya. Walaupun setelah pendamping itu ditemukan, tidak lantas menghapus segala kegelisahannya. Bisa jadi malah bertambah banyak. Tapi life must go on, begitulah hidup. Ada jalur yang telah digariskan, wajib dilewati. Adapula jalur yang tidak boleh diinjak, walaupun telah digariskan. Agar bisa diakui oleh masyarakat. Agar bisa hidup bersama dengan masyarakat. Agar bisa dicintai Sang Pencinta.
Usia sudah hampir menyentuh kepala tiga. Penghasilan dari pekerjaan tetap ditambah bonus sudah siap untuk melangkah ke jalur itu, pernikahan. Rumah dan kendaraan sudah menunggu orang baru. Cinta dari seorang kekasih yang selalu setia menemaninya setiap saat, tidak cukup untuk memberikan kebenarian mengajukan lamaran atas lowongan yang selalu terbuka untuknya. Sudah sepuluh ribu kali* kekasihnya secara tersirat meminta melamarnya, tetapi jawabannya tetap sama, secara tersirat, tidak ada jawaban. Tidak ada keberanian untuk melangkah ke anak tangga yang lebih tinggi. Anak tangga yang akan memberikan kebahagiaan, anak tangga yang akan memberikan pemenuhan kebutuhan sosiologis, psikologis, dan biologis, dan juga anak tangga yang memberikan berbagai persoalan baru yang belum pernah dialaminya.
Aku selalu memberinya nasihat di setiap perjumpaan, bahwa setiap persoalan yang akan kita alami sesungguhnya telah dialami terlebih dahulu oleh orang lain. Orang lain yang telah menginjakkan kakinya di lembaran baru. Lembaran baru yang telah berisi lukisan indah. Memberikan keindahan dengan lukisan kehidupannya di atas lembaran itu. Ada juga orang lain yang malah mengotorinya dengan injakan telapak hatinya yang kotor, membuat lukisan keindahan dalam lembaran itu menjadi carut-marut. Tidak pantas untuk diikuti. Ikutilah apa yang membuat lukisan itu menjadi tambah indah, dilihat dari sudut manapun, bahkan dari belakang lembaran.
Namun tetap saja, lelaki muda itu masih bergelut dengan persoalannya, persoalan yang apabila terpecahkan bisa membangkitkan persoalan baru yang lebih banyak. Apa yang terjadi dengan dia, belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya dia selalu mendengarkan nasihatku, berdiskusi dan menemukan solusi. Ada apa dengan dia? Oh, ataukah Aku yang keliru, apakah seharusnya pertanyaannya aku ganti, Ada apa denganku?
Ya memang itulah masalahnya. Aku yang memberikan nasihat tidak sepenuhnya mengamalkan nasihatku padanya. Aku tidak yakin nasihatku akan memecahkan persoalannya. Karena Aku sama-sama mempunyai persoalan yang sama dengan dia. Dia yang setiap hari aku temui. Dia selalu berdiri di hadapanku. Berdiri dari dalam lemari baju. Lemari baju di dalam kamarku yang selalu Aku gunakan untuk bercermin. Bercermin atas jasadku dan juga atas jiwaku. Lelaki muda yang berdiri di hadapanku itu adalah jasadku dan jiwaku.
Usia sudah hampir menyentuh kepala tiga. Penghasilan dari pekerjaan tetap ditambah bonus sudah siap untuk melangkah ke jalur itu, pernikahan. Rumah dan kendaraan sudah menunggu orang baru. Cinta dari seorang kekasih yang selalu setia menemaninya setiap saat, tidak cukup untuk memberikan kebenarian mengajukan lamaran atas lowongan yang selalu terbuka untuknya. Sudah sepuluh ribu kali* kekasihnya secara tersirat meminta melamarnya, tetapi jawabannya tetap sama, secara tersirat, tidak ada jawaban. Tidak ada keberanian untuk melangkah ke anak tangga yang lebih tinggi. Anak tangga yang akan memberikan kebahagiaan, anak tangga yang akan memberikan pemenuhan kebutuhan sosiologis, psikologis, dan biologis, dan juga anak tangga yang memberikan berbagai persoalan baru yang belum pernah dialaminya.
Aku selalu memberinya nasihat di setiap perjumpaan, bahwa setiap persoalan yang akan kita alami sesungguhnya telah dialami terlebih dahulu oleh orang lain. Orang lain yang telah menginjakkan kakinya di lembaran baru. Lembaran baru yang telah berisi lukisan indah. Memberikan keindahan dengan lukisan kehidupannya di atas lembaran itu. Ada juga orang lain yang malah mengotorinya dengan injakan telapak hatinya yang kotor, membuat lukisan keindahan dalam lembaran itu menjadi carut-marut. Tidak pantas untuk diikuti. Ikutilah apa yang membuat lukisan itu menjadi tambah indah, dilihat dari sudut manapun, bahkan dari belakang lembaran.
Namun tetap saja, lelaki muda itu masih bergelut dengan persoalannya, persoalan yang apabila terpecahkan bisa membangkitkan persoalan baru yang lebih banyak. Apa yang terjadi dengan dia, belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya dia selalu mendengarkan nasihatku, berdiskusi dan menemukan solusi. Ada apa dengan dia? Oh, ataukah Aku yang keliru, apakah seharusnya pertanyaannya aku ganti, Ada apa denganku?
Ya memang itulah masalahnya. Aku yang memberikan nasihat tidak sepenuhnya mengamalkan nasihatku padanya. Aku tidak yakin nasihatku akan memecahkan persoalannya. Karena Aku sama-sama mempunyai persoalan yang sama dengan dia. Dia yang setiap hari aku temui. Dia selalu berdiri di hadapanku. Berdiri dari dalam lemari baju. Lemari baju di dalam kamarku yang selalu Aku gunakan untuk bercermin. Bercermin atas jasadku dan juga atas jiwaku. Lelaki muda yang berdiri di hadapanku itu adalah jasadku dan jiwaku.
****
*Mentari Freetalk 10.000 kali.... :D