Menjadi Bangsa Cerdas
Tidak mudah untuk menjadi bangsa menjadi cerdas. Mari kita tengok peradaban2/kebudayaan2 yang unggul dalam keilmuannya. Lalu kita ambil hikmah dengan menirunya.
Kebudayaan Yunani
Pada zaman ini ilmu belum lahir, yang ada hanya filsafat dan pengetahuan. Filsuf yg terkenal yaitu Aristoteles dan Plato
Kebudayan Islam
Perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dari zaman Rasulullah. Para tahanan perang yang ingin dibebaskan harus mengajarkan membaca 10 muslim, jika dia bisa membaca. Kemudian pada masa Abasiyah, khalifah2 sangat menyenangi ilmu pengetahuan. Mereka membuat ibukota2 yang mendukung terhadap perkembangan keilmuwan. Fase pertama adalah penerjemahan pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, bahasa resmi Khilafah Islamiyah. Kemudian muncul ide2 sendiri, kritikan, dan penguatan atas pengetahuan yang mereka dapatkan. Ilmu baru muncul di sini. Ilmuwan Islam sudah menetapkan metodologi pengetahuan menjadi sebuah ilmu, jauh sebelum peradaban barat muncul. Ilmu2 dasar berkembang pada peradaban Islam, seperti Matematika, Geografi, Sosiologi, Kedokteran, Sejarah, Kesusastraan, Astronomi, Pertanian, Mekanika ketika barat masih dalam kondisi "Dark Age".
Seperti apa sih ilmu2 yg dilahirkan dari peradaban Islam. Ilmu matematika, sebagaimana yang kita pelajari dari SD sampai SMA bahkan Perguruan Tinggi, seperti pengembangan angka dari angka India (1,2,3,4,5) menjadi 1,2,3,4,5,6,7,8,9, dan 0. Penemuan angka 0 adalah penemuan besar oleh al-Khawarizmi. Kemudian aljabar, persamaan, persamaan kuadrat, kubik, pangkat empat, matriks, integral, diferensial, logaritma, trigonometri. Ilmu Geografi seperti penemuan globe, peta amerika, eropa, dan kehidupan sosial yang ada di permukaannya. Ilmu astronomi, dengan dibuatnya observatorium yg tercanggih di zamannya di mana arsitekturnya ditiru oleh observatorium barat bahkan sampai 100 tahun kemudian. Dan masih banyak lagi.
Kebudayaan Barat
Pada masa puncak perkembangan kelimuan Islam, banyak juga pelajar2 Yahudi dan Nasrani yang belajar, mereka pun menerjemahkan ilmu2 Islam ke dalam bahasa mereka. Maka terjadilah masa reinasance. Ilmu yg diterjemahkan kemudian dianalisis dikritik dan dikuatkan, sehingga menimbulkan ide2 baru yg semakin berkembang.
Sayangnya kebudayaan barat menutup-nutupi berita keemasan perkembangan keilmuwan Islam. Tak sedikit terjemahan yang malah diakui buatan sendiri. Dan setelah mereka mendapatkan ilmu2 Islam, mereka menghancurkan perpustakaan2 keilmuwan yang terletak di daerah kekuasaan Islam. Mereka tidak menghargai ilmu, sebagaimana Islam sangat menghargainya. Islam mengambil ilmu dari kebudayaan lain tanpa menghancurkannya. Kedamaian dan kehidupan bertoleransi antara umat beragama sangat terjalin.
Nah... dari sejarah di atas, apa yg bisa kita ambil. Yang pertama, kita harus menerjemahkan ke dalam bahasa kita sendiri. Yang kedua ada dukungan dari pemerintah. Yang ketiga menghargai ilmu pengetahuan. Dan mesti diingat sebagai landasan kita bahwa semua ilmu takkan bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah. Ilmu itu datangnya dari Allah. Dan semua yg bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah pasti datangnya dari syetan yang sesat dan menyesatkan.
Kebudayaan Yunani
Pada zaman ini ilmu belum lahir, yang ada hanya filsafat dan pengetahuan. Filsuf yg terkenal yaitu Aristoteles dan Plato
Kebudayan Islam
Perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dari zaman Rasulullah. Para tahanan perang yang ingin dibebaskan harus mengajarkan membaca 10 muslim, jika dia bisa membaca. Kemudian pada masa Abasiyah, khalifah2 sangat menyenangi ilmu pengetahuan. Mereka membuat ibukota2 yang mendukung terhadap perkembangan keilmuwan. Fase pertama adalah penerjemahan pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, bahasa resmi Khilafah Islamiyah. Kemudian muncul ide2 sendiri, kritikan, dan penguatan atas pengetahuan yang mereka dapatkan. Ilmu baru muncul di sini. Ilmuwan Islam sudah menetapkan metodologi pengetahuan menjadi sebuah ilmu, jauh sebelum peradaban barat muncul. Ilmu2 dasar berkembang pada peradaban Islam, seperti Matematika, Geografi, Sosiologi, Kedokteran, Sejarah, Kesusastraan, Astronomi, Pertanian, Mekanika ketika barat masih dalam kondisi "Dark Age".
Seperti apa sih ilmu2 yg dilahirkan dari peradaban Islam. Ilmu matematika, sebagaimana yang kita pelajari dari SD sampai SMA bahkan Perguruan Tinggi, seperti pengembangan angka dari angka India (1,2,3,4,5) menjadi 1,2,3,4,5,6,7,8,9, dan 0. Penemuan angka 0 adalah penemuan besar oleh al-Khawarizmi. Kemudian aljabar, persamaan, persamaan kuadrat, kubik, pangkat empat, matriks, integral, diferensial, logaritma, trigonometri. Ilmu Geografi seperti penemuan globe, peta amerika, eropa, dan kehidupan sosial yang ada di permukaannya. Ilmu astronomi, dengan dibuatnya observatorium yg tercanggih di zamannya di mana arsitekturnya ditiru oleh observatorium barat bahkan sampai 100 tahun kemudian. Dan masih banyak lagi.
Kebudayaan Barat
Pada masa puncak perkembangan kelimuan Islam, banyak juga pelajar2 Yahudi dan Nasrani yang belajar, mereka pun menerjemahkan ilmu2 Islam ke dalam bahasa mereka. Maka terjadilah masa reinasance. Ilmu yg diterjemahkan kemudian dianalisis dikritik dan dikuatkan, sehingga menimbulkan ide2 baru yg semakin berkembang.
Sayangnya kebudayaan barat menutup-nutupi berita keemasan perkembangan keilmuwan Islam. Tak sedikit terjemahan yang malah diakui buatan sendiri. Dan setelah mereka mendapatkan ilmu2 Islam, mereka menghancurkan perpustakaan2 keilmuwan yang terletak di daerah kekuasaan Islam. Mereka tidak menghargai ilmu, sebagaimana Islam sangat menghargainya. Islam mengambil ilmu dari kebudayaan lain tanpa menghancurkannya. Kedamaian dan kehidupan bertoleransi antara umat beragama sangat terjalin.
Nah... dari sejarah di atas, apa yg bisa kita ambil. Yang pertama, kita harus menerjemahkan ke dalam bahasa kita sendiri. Yang kedua ada dukungan dari pemerintah. Yang ketiga menghargai ilmu pengetahuan. Dan mesti diingat sebagai landasan kita bahwa semua ilmu takkan bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah. Ilmu itu datangnya dari Allah. Dan semua yg bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah pasti datangnya dari syetan yang sesat dan menyesatkan.
