Prioritas Sosial
Mengelola sebuah negara pasti banyak masalah. Dengan dana terbatas, harus memaksimumkan kepentingan rakyat. Bagian mana yang menempati prioritas utama, dan bagian mana yang menempati proiritas terakhir. Untuk mendapatkannya segala cara dicoba. Cara ini adalah hasil diskusi dari pakar2 di bidangnya yang tentunya memperjuangkan bidangnya agar mendapatkan prioritas atas.
Gw ga tau banyak tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, atauapun kehidupan berkhilafah. Yang gw tahu adalah Rasulullah saw sangat memperhatikan dua bidang ini, yaitu masalah seksualitas dan masalah fakir miskin dan anak terlantar. Sedih memang dua hal ini dalam sejarah pemerintah Indonesia belum pernah diaplikasikan. Belum pernah diaplikasikan karena beberapa diantaranya sudah/akan di-Undang-Undang-kan, bahkan untuk anak terlantar sudah di-Undang-Undang Dasar-kan.
al-Hamdulillah, UU Pornografi dan Pornoaksi sedang dibahas. Rakyat Indonesia harus menunggu lebih dari setengah abad untuk mendapatkan aturan masalah perseksualitasan. Padahal Rasulullah saw tidak lebih dari 20 tahun sudah sukses menerapkan dan mengontrol masalah yang paling besar yang dialami makhluk Allah yang berbentuk manusia ini. Mudah2an penerapannya tidak seperti masalah lain.

Mengenai masalah fakir miskin dan anak terlantar. UUD telah mencantumkan di dalam pasalnya bahwa "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara". Di negara lain hal ini benar2 telah diterapkan. Padahal tidak ada di dalam UUD kita yang menyebutkan langsung posisi warga negara selain fakir miskin dan anak-anak terlantar. Tidak ada pengusaha, artis, karyawan. Apa mau di kata, pemerintah kita tak pernah memprioritaskan hal ini. Sekali lagi mari kita liat contoh pemimpin yg sukses menjalankan roda pemerintannya, Rasulullah saw. Beliau memberikan contoh kepada rakyatnya untuk memelihara anak-anak yatim dan senantiasa menyantuni para fakir miskin (yang sulit ditemui di zaman Rasul karena ekonomi berputar sangat adil sesuai dengan sistemnya, ekonomi Islam). Maka Rasulullah pun dijuluki Bapaknya Anak Yatim. Betapa Rasulullah adalah contoh sempurna bagi pemimpin2 bangsa lainnya.
Kalau pemerintah benar2 cerdas, pasti akan mendahulukan masalah ini dibandingkan masalah2 lain yang ga terlalu penting. Dibikinlah Departemen atau Kementrian Pemeliharaan Fakir Miskin dan Anak Terlantar sendiri. Menkokesra dihapus saja. Kementrian2 yang ga terlalu penting, yaitu yang ga ada di dalam konstitusi kita, UUD, seperti Menkominfo, dimerjer saja. Biar uangnya bisa diaplikasikan untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Penting mana sih 3G, WiFi, backbone broadband dengan anak-anak terlantar berbaju kumuh, meminta2 dari warteg ke warteg, dari bis ke bis, dari lampu merah ke lampu merah. Mudah2an pemikiran pemerintah yang gw cintai semakin terbuka.
Gw ga tau banyak tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, atauapun kehidupan berkhilafah. Yang gw tahu adalah Rasulullah saw sangat memperhatikan dua bidang ini, yaitu masalah seksualitas dan masalah fakir miskin dan anak terlantar. Sedih memang dua hal ini dalam sejarah pemerintah Indonesia belum pernah diaplikasikan. Belum pernah diaplikasikan karena beberapa diantaranya sudah/akan di-Undang-Undang-kan, bahkan untuk anak terlantar sudah di-Undang-Undang Dasar-kan.
al-Hamdulillah, UU Pornografi dan Pornoaksi sedang dibahas. Rakyat Indonesia harus menunggu lebih dari setengah abad untuk mendapatkan aturan masalah perseksualitasan. Padahal Rasulullah saw tidak lebih dari 20 tahun sudah sukses menerapkan dan mengontrol masalah yang paling besar yang dialami makhluk Allah yang berbentuk manusia ini. Mudah2an penerapannya tidak seperti masalah lain.

Mengenai masalah fakir miskin dan anak terlantar. UUD telah mencantumkan di dalam pasalnya bahwa "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara". Di negara lain hal ini benar2 telah diterapkan. Padahal tidak ada di dalam UUD kita yang menyebutkan langsung posisi warga negara selain fakir miskin dan anak-anak terlantar. Tidak ada pengusaha, artis, karyawan. Apa mau di kata, pemerintah kita tak pernah memprioritaskan hal ini. Sekali lagi mari kita liat contoh pemimpin yg sukses menjalankan roda pemerintannya, Rasulullah saw. Beliau memberikan contoh kepada rakyatnya untuk memelihara anak-anak yatim dan senantiasa menyantuni para fakir miskin (yang sulit ditemui di zaman Rasul karena ekonomi berputar sangat adil sesuai dengan sistemnya, ekonomi Islam). Maka Rasulullah pun dijuluki Bapaknya Anak Yatim. Betapa Rasulullah adalah contoh sempurna bagi pemimpin2 bangsa lainnya.
Kalau pemerintah benar2 cerdas, pasti akan mendahulukan masalah ini dibandingkan masalah2 lain yang ga terlalu penting. Dibikinlah Departemen atau Kementrian Pemeliharaan Fakir Miskin dan Anak Terlantar sendiri. Menkokesra dihapus saja. Kementrian2 yang ga terlalu penting, yaitu yang ga ada di dalam konstitusi kita, UUD, seperti Menkominfo, dimerjer saja. Biar uangnya bisa diaplikasikan untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Penting mana sih 3G, WiFi, backbone broadband dengan anak-anak terlantar berbaju kumuh, meminta2 dari warteg ke warteg, dari bis ke bis, dari lampu merah ke lampu merah. Mudah2an pemikiran pemerintah yang gw cintai semakin terbuka.





