<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/13859598?origin\x3dhttp://f-xtudent.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

.: blog bogana f-xtudent

Tiga elemen pembangun blog ini :: Informasi yang jarang tersampaikan :: Penting tapi tidak dianggap penting :: Opini dari sudut pandang berbeda

26 June, 2006

Try to Think Subjectively!

Seringkali kita menilai sesuatu objek. Objek bisa dalam bentuk real: benda lengkap dg warna, volume, dan massanya, atau dalam bentuk unreal: permasalahan. Sebagian besar dari kita mungkin telah dicekoki bahwa berfikirlah secara objektif, maka akan menghasilkan penilaian yang benar.



Objective vs Subjective

Sebelumnya, mari kita lihat definisi yg benar mengenai perbedaan penilaian antara objective dan subjective. Dalam ranah ilmu sosiologi, penilaian objective adalah penilaian yg dikeluarkan oleh pihak kedua atau ketiga, korban (object), pengamat, yg pasti bukan pelaku (subject), . Sedangkan penilaian subjective adalah penilaian yg dikeluarkan oleh pihak pelaku (subject).

Teladan

Seorang pelancong sedang berwisata ke pantai, pada siang hari dia berjalan-jalan di pemukiman nelayan. Pemukiman yg kumuh, sementara para nelayan hanya duduk-duduk, tiduran, bahkan tidur pulas, kumpul2 di warung kopi, melakukan aktivitas yg tidak komersil, spt maen bola, bulu tangkis, tidak ada yg bekerja. Lalu si pelancong memberikan penilaian bahwa kenapa ekonomi nelayan di daerah ini begitu terpuruk, dikarenakan penduduknya yg bermalas-malasan, sehingga terasa menderita dg ekonomi pas-pasan.

Sementara nelayan sendiri tidak merasa demikian, mereka merasakan kebahagiaan hidup yg ga didapat oleh penduduk urban, bisa lebih lama bercengkrama dg keluarga, ngobrol di warung kopi dg teman2 mereka, melakukan aktivitas yg disukainya, makan dg makanan favorit mereka, asin dan lalab, dan mereka pun ternyata menganggap bekerja keras ketika pada malam hari ketika mereka harus melaut untuk mencari nafkah yg Allah sediakan buat mereka.

Manakah yg penilaian yg objective dan manakan yg subjective?
Ya penilaian si pelancong akan kehidupan nelayan adalah penilaian objective

Hikmah

Dari sepenggal teladan di atas, ternyata tidak selalu penilaian objective itu better than penilaian subjective. Mencoba berfikir subjective malah bisa mengetahui apa keadaan sebenarnya yg terjadi. Ya... kuncinya kumpulkan data sebanyak2nya kemudian cobalah berfikiran subjective, seolah2 kita adalah pelakunya... maka kita akan mendapatkan kesimpulan yg mencengangkan. Sebagaiamana yg ada di fikiran detektif, dengan data yg ada, dia mencoba berfikir subjective, seolah2 dia adalah penjahatnya. Sehingga alur pikirannya (penjahat) dpt tertebak.

Nah... sekarang menurut Anda, mana yg lebih baik, penilian subjective atau penilaian objective?

23 June, 2006

Menyoal Hasil Ujian Nasional

Sebagai anak guru (bapak dan ibu gw guru SD), gw merasakan apa yg terjadi dg dunia pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan dasar dan menengah. Baru2 ini gempar di media-media, internet, tv, radio, majalah, maupun surat kabar mengenai hasil Ujian Nasional (UN). Pasalnya beberapa siswa pintar, tidak lulus UN. Dan lucunya (lucu teu hayang seuri) lagi, pemerintah melalui corong wapres, tidak merestui UN ulang. Walhasil, siswa2 yg ga lulus jadi pada sumetres... malah sampe pengen maen bakar2an.

The Real Problem

Kalo mau liat masalah riil-nya, jangan menilai hasil UN, tapi liat secara keseluruhan sistem pendidikan kita, super ngaco.... Apa pasal? Ada 3 pasal:

1 Tidak mempertimbangkan minat dan kemampuan siswa
It's OK... Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (DikDasMen) menetapkan mata pelajaran dasar yg semua siswa harus kuasai secara standard. Penentuan mata pelajaran ini harus dipertimbangkan secara matang. Selain mata pelajaran tsb, para siswa boleh memilih mata pelajaran sesuai dg minat dan kemampuan dia, mirip2 kuliah geto....

2 Level pelajaran terlalu tinggi
Oleh karena tujuan standar tadi, ya... ukuran standarnya jangan tinggi-tinggi. Cuz yang ditekankan pada sistem pendidikan itu adalah palajaran yg sesuai minat dan kemampuannya. Sehingga banyak waktu yg bisa siswa lakukan dan dalami pada pelajaran2 yg mau ditekuninya. Bukannya kaya sekarang. Semua mata pelajaran harus dikuasi sementara levelnya terlalu tinggi. Ya... puyeng atuh. Siswa juga manusia..! Padahal yg dibutuhkan di kehidupan sehari2 ga sampe segitunya. Kalo dia jago di beberapa pelajaran yg dia sukai, pasti bgt dia bakal jadi ahli di bidangnya... Dokter spesialis lebih mahal daripada dokter umum, isn't it?. Buktinya udah banyak. Contoh aja, ada murid ibu gw yg pindah ke Ustrali. Di sana dia harus mengikuti test masuk elementy school, tapi yg ditest matematika aja. Ibu gw takut, takut dia ga lulus, cuz di kelas, nilai matematikanya di bwah rata2. Eh ternyata.... walah dia nomor 1 di kelasnya di bidang matematika.

3 Mata pelajaran terlalu banyak
Ini dia yg bikin puyeng lagi. Bukannya mencetak SDM yg mumpuni di bidangnya, malah mencetak SDM yg harus mumpuni di semua bidang. Walhasil... ga ada satupun yg dimumpuninya. Bayangkan aja, dalam seminggu ada 12 mata pelajaran. Wooooohhhh!!!!

Menurut gw, 3 pasal ini dulu deh dibenahi... baru ke kategori terakhir... penentuan apakah dia berhak lulus dari sekolah apa ngga? Dan yg perlu dicatat adalah bukan menstandarkan soal UN, tapi standarkan sekolahnya, guru2nya, mata pelajarannya. Dan untuk menentukan seseorang lulus apa ngga, bukan dilihat dari niali Ujian Nasional. Tapi dari banyak variable yg sangat komplek, misalnya dibuatlah model regresi logistik atau probit, atau dibikinlah persamaan garis diskrimnannya. What a simple?

22 June, 2006

Penjajah

Ngga biasanya ngomongin politik di sini....
Rakyat Irak menembakan senjata kimia ke salah satu pasukan penjajah US di kota Basra.


Walah ternyata senjata kimia rasanya angad-angad kuku, segerrrr....!
Lumayan udah satu minggu ga mandi, langsung mandi aer anged.

Thx kid.
Whuehehehee....

Every Cloud has a Silver Lining

16 June, 2006

Fokus pada Satu Hal


Gw bukanlah penggila novel. Gw cuman seneng baca aja, ternyata novel menarik juga. Mungkin ini tahap awal gw menjadi seorang pembaca novel. Itu karena mang Risyda, who always buy novel and I just borrow and read it. Dan lumayan lah kualitas ceritanya, "What a great story!"

Loh apa hubungannya novel sama judul postingan di atas?
Tentu saja ada. Novelis terkenal dia lebih mendalami satu hal yang kira2 masyarakat awam ga terlalu concern terhadap hal itu. Menggali informasi, nambah2in cerita fiktif yg kira2 bisa make sense, and make it intetresting to be read, to be talked, even to do.

Itulah kekuatan fokus pada satu hal. Ga peduli apakah hal itu sesuatu yang ngga bakalan membangkitkan keuntungan besar. Anu penting mah kita bisa enjoy dalam mendalaminya ("dalam menekuninya" kayaknya lebih enak). Dan kalo kita bener2 udah jadi seorang expertist di hal itu, orang lain pasti bakalan appreciate to us.

Huhhh!! kayaknya ini menjadi trigger menarik dalam hidup gw. To be a better man with a better future. Tapi gimana ya memulainya? Kalo baca buku motivasi, pasti jawabannya "mulai dari sekarang, nanti sedikit2 disempurnakan, kalo nunggu sempurna kita ga bakal mulai2".
Yosh! I'll do it, at least in one year ahead.

Btw. Gambar gedung di atas adalah gedung kantorku Danareksa, keren ya!! I love my office building! Kayak istana..... Cuz di Jakarta, gedung2 pada kotak2 dibungkus kaca gitu, membosankan.

07 June, 2006

Sumetres

Kerja di perusahaan besar, bukan berarti semakin bahagia. Kalo kata bukunya mang Achmad Hidayat mah, bahagia yaitu ketika kita mencapai kepuasan, kerja cuman 3-4 jam sehari, banyak waktu berinteraksi dengan keluarga, mau ngapa2in ga ada yang larang, dan kita harus senang dengan kerjaan kita. Gitu katanyah!

Then after I read his (Achamd Hidayat) book, the title is Bagaimana Pemalas Bisa Kaya dan Bahagia. Ya itu terjadi di gw. Gw ditugasin boss, mesti menganalisis sesuatu yang bener2 baru buat gw, ga tau gimana caranya... 3 hari gw mikirin dan coba cari2 ideu, ngga dapet eung! coz datanya aja susah dicari. In addition, badan gw lagi not delicious lagi. Jadi pengen miwir (mewek/ceurik).

Tapi gw mikir kesulitan dan kemudahan itu adalah paket..... Tinggal kita mau nyari ngga kemudahan itu. Akhirnya berkat saran dari mang Ociw, gw disuruh searching di tempatnya mang Gugel, eh dapet loh. Some time a miracle come to us from the unexpected way. Gitu katanya, kata mang Achmad juga gitu. Ya akhirnya gw dapetin tuh artikelnya.... Lumayan lah biwir gw ngga terlalu manyun sekarang.....

al-Hamdulillah......................