<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/13859598?origin\x3dhttp://f-xtudent.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

.: blog bogana f-xtudent

Tiga elemen pembangun blog ini :: Informasi yang jarang tersampaikan :: Penting tapi tidak dianggap penting :: Opini dari sudut pandang berbeda

10 May, 2006

Bersama kesulitan itu ada kemudahan

Judul di atas adalah pengalan ayat al-Quran yg menjadi pedoman muslimin. Ada dua ayat berurutan yg menyebutkan demikian. Sungguh suatu perhatian dari Tuhan akan kelemahan manusia yg suka berputus asa. Allah Maha Tahu apa yg telah Ia ciptakan. Dan memberitahukan tips untuk mengarungi hidup di dunia yg penuh Hambatan-Tantangan-Ancaman-Gangguan (HTAG).

Mengapa kesulitan ditulis lebih awal daripada kemudahan

Teman saya pernah berkata, "Aku teringat almarhum Pa Andi Hakim Nasution pernah berkata, 'Kenapa orang Indonesia malas naik tangga penyebrangan daripada underpass? Itu karena kita melihat awalnya dulu cape, naik. Kalau underpass kan turun dulu.'" Aku juga teringat perkataan beliau yang lain lagi, "Kenapa orang beri nama jalan tanjakan .... bukannya turunan ....?" Jadi lucu, yang teringat orang itu kesulitan, tapi kemudahan suka lupa.

Kesulitan dan Kemudahan adalah paket

Ada pria, ada wanita. Ada siang, ada malam. Ada kanan, ada kiri. Ada atas, ada bawah. Ada depan, ada belakang. Ada bangun, ada tidur. Ada baik, ada jahat. Begitu pula ada kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu pula ada kemudahan pasti ada kesulitan. Teringat filsafatnya si Kabayan, "Kalo sedang jalan, dia ketemu tanjakan, dia gembira. dan ketika ketemu turunan, dia sedih"

Kesulitan dan Kemudahan merupakan persepsi

Hebatnya di sini. Berbeda dg paket yg lain, kesulitan dan kemudahan adalah persepsi kita terhadap suatu masalah. Artinya, tidak mutlak. Kata si A gampang, mungkin kata si B susah. Sekarang hal ini susah, mungkin saat nanti hal ini jadi gampang. Energy positif yg dipancarkan fikiran membuat segala sesuatu menjadi kemudahan, setidaknya tidak menjadi kesulitan. Intinya, bagaimana-kapan-dari sebelah mana cara kita memandang persoalan itu. Ada persoalan yg sulit, namun pemecahannya gampang. Dan adapula persoalannya gampang, namun pemecahannya justru sulit.

Contohnya....

Soal #1: Bak mandi di isi air dari keran selama satu jam. Air yg keluar dr keran, semakin lama semakin banyak. Setiap detik, volume air di bak menjadi dua kali lipat. Misal, 1 lt menjadi 2 lt, menjadi 4 lt,.... Nah pertanyaannya, pada detik ke berapa itu bak akan terisi seperempatnya.
Jawabannya: pada 2 detik sebelum satu jam (detik ke 3598). Cara pandangnya diubah dari belakang. OK kan.

Soal #2: Shalat fardlu apa yg tahiyat-nya ada tiga?
Jawabannya: Sholat fardlu masbuk pada rakaat ke dua.

Soal #3: Shalat fardlu apa yg tahiyat-nya ada empat? Nah loh!
Jawabannya: Shalat fardlu maghrib, ketika gabung dg imam pada rakaat kedua sedang sujud.

Jadi.... jangan takut hidup!

08 May, 2006

Jakarta's Livin' Cost

Skitar 1 quarter (3 bulan) gw ngekos di Jakarta. Tepatnya di Wallstreet, Kebon Sirih, Menteng. Da emang lumayan deket sama kantor gw di Jl Medan Merdeka Selatan (Monas). Wiuh... yuk kita itung2 berapa siy livin' cost Jakarta.

OK. Kita itung dr harta tidak lancar dulu: kosan. Kosan di daerah Jakarta Pusat, yg gw tahu paling rendah 275rb dan paling mahal 550rb. Yaitu kosan biasa aja, lantai ga kramik, tapi tegel biasa ajah, ngga ber-AC, ada lemari, meja kursi, dan ranjang. Juga udah dicuciin. Saat ini, cost tempat tinggal gw 350rb se-bulan. Sebelumnya 500rb sebulan dg fasilitas yg hampir sama (lebih bagus yg skr). Harta tak lancar lainnya: strikaan bagi yg ga dicuciin, anggap aja 70rb, tempat sabun 3rb dan gayung 4rb.

Kedua, biaya perut. Makan di sekitar kantor (warteg) antara 4rb sampai dg 8rb. Terpenuhi karbohidrat, protein, dan sayuran. Kalo di kantin kantor minimal 8rb, rata-rata 13rb. Di sekitar kosan gw lebih murah: nasi goreng 4,5rb; pecel ikan 5rb, pecel ayam *ga pernah*, makanan di warung nasi 4rb-7rb. Dan percaya ngga, tadi malam gw makan cukup dg 2rb, sudah terpenuhi karbohidrat, protein dan sayuran. Ayo tebak!

Ketiga, biaya kebersihan. Sabun 3rb, pasta gigi 4rb, sikat gigi 2rb, sampoo 9rb, sabun muka 5rb. Dan bagi yg ga dicuciin: deterjen 12rb dan sabun colek 2rb.

Keempat, ongkos transportasi. Kalo sekali balik 2rb. Brarti PP 4rb. Ongkos pulang kampung seminggu sekali anggap abis 50rb (biasanya lebih).

Lainnya: buku bacaan, sebulan 150rb, jajan cemilan kueh sebluan 100rb, pulsa 50rb.

Ok mungkin cukup kalee ya. Itulah biaya hidup kita, gw lebih tepat. Coba itung, kira2 sebulan gw ngabisin berapa duit. Kalo orang Senayan dg gaji puluhan juta rupiah ga cukup buat livin' cost di Jakarta, kok gw bisa2 ajah yaaa.... Mungkin mereka tambahin biaya ke dugem... ih amit 16x. Padahal kalo pake XL jempol, pasti...