<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/13859598?origin\x3dhttp://f-xtudent.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

.: blog bogana f-xtudent

Tiga elemen pembangun blog ini :: Informasi yang jarang tersampaikan :: Penting tapi tidak dianggap penting :: Opini dari sudut pandang berbeda

26 October, 2005

Mukjizat Lailatul Qodar sang Abu Nawas


Abu Hani Muhammad bin Hakami -atau yang lebih dikenal dengan Abu Nawas- lahir di Persia tahun 735. Seorang sastrawan terbesar pada zaman kekuasaan Sultan Harun Al Rasyid al Abassi yang menjadi khalifah Dinasti Abasiyah tahun 786-890.

Abu nawas banyak menggubah sajak-sajak bercorak leluhur dan senda gurau (mujuniyat), ahli merangkai syair tentang cinta dan kecantikan wanita, pujian terhadap seseorang, bahkan SINDIRAN HALUS NAMUN TAJAM.

Karena kelakuannya yang tak bermoral, bahkan kemungkinan Atheis, Abu Nawas tidak disukai kalangan agamawan dan mereka yang menjunjung tinggi adab kesopanan.

Pada suatu malam -konon di malam Lailatul Qodar- ia didatangi seseorang tak dikenal yang berkata:

Ya Abu Hani, idza lam takun milhan tuslih, fa la takun zubabatan tafsid

Hai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, jangan lah engkau menjadi lalat yang menjijikan merusak hidangan itu

Peristiwa di malam Lailatul Qodar itu membawa perubahan besar kepada Abu Nawas. Ia menyadari kesalahan-kesalahannya. Menyadari bahwa selamanya hanya menjadi lalat menjijikan yang membuat sebal orang lain.

Bertobatlah ia.

Syair-syairnya diganti dengan dzikir, malam-malam memabukan diganti dengan i'tikaf di masjid. Yang keluar dari bibirnya ialah ayat-ayat Al Qur'an, yang terpikir dikepalanya ialah ke Maha Agungan Tuhan yang mampu merubah tabiat buruk manusia dalam sekejap Malam dihabiskan dnegan menghinakan diri dihadapan Tuhan yang Maha Mulia siang dihabiskan dengan mencari karunia petunjukNya ke gurun dan samudera RahmatNya

Sebaik-baiknya ibadah umatku ialah membaca Al Qur'an. Maka Al Qur'an yang tersurat, tersirat, dan tersuruk dibaca dan digubahnya dalam puisi puji-pujian.

Salah satu karya puisi terakhirnya yang terkenal hingga kini, dijadikan senandung di pesantren-pesantren dan nasyid di kalangan remaja:

Illaahi lastulil firdfausi a'laa
wa laa aqwaa 'alan naaril jahiimi
fahablii taubatan waghfir dzunuubi
fainnaka ghoofiru dzanbil adziiimi
Ya Alloh tak pantas (surga) firdaus untukku
tapi aku tak kuat memasuki nerakamu
maka atas segala dosaku, aku bertobat
karena ampunanmu lebih luas.
Demikianlah, seorang pemabuk yang hampir terjatuh ke jurang kehancuran. diselamatkan di malam Lailatul Qodar menjadi penyair dengan karya yang dikenang sepanjang Zaman.

Lalu, bagaimana dengan kita menjelang malam Lailatul Qodar ini?


~ 24 Oktober 2005
ucup al-bandungi bukan rumi
Taken from Daarut-Tauhid milist

0 Comments:

Post a Comment

<< Home